Menghindar
Menghindar
Aku menatapnya dengan tatapan sebal saat melihat pantulan sosoknya di jendela. Dia terlihat nyaman dengan dirinya sendiri, membalik halaman demi halaman buku miliknya. Seharusnya aku lebih memperhatikan pembicaraan mereka dan menolak apapun yang membuat anak ini mengikutiku.
Saat mobil berhenti, aku segera membuka pintu dan berniat menyendiri di dalam kamar. Apapun yang dilakukan anak itu di rumah opa bukanlah urusanku. Namun sesaat sebelum aku membuka pintu kamar, aku mendengar oma memanggil.
"Faza, sini bantu Oma sebentar."
Sial, sepertinya aku ketahuan ingin menghindarkan diri darinya. Kurasa aku harus menemukan tempat menyendiri baru yang lebih sulit dicari. Andai rumah ini memiliki atap seperti atap rumahku di Bogor, mungkin akan lebih menyenangkan.
Dengan enggan aku menghampiri Oma yang mengajakku ke dapur. Kami menyiapkan minuman dan kue kering. Oma memberi isyarat padaku untuk membawanya ke teras belakang dan aku menurutinya.
Entah apakah aku yang selama ini tak terlalu memperhatikan oma dalam berbagai kunjunganku sebelum kecelakaan itu terjadi, tapi oma terlihat lebih murah senyum. Walau harus kuakui oma terlihat lelah dan ada semburat kesedihan yang hampir tak tampak di tatapan matanya.
Oma mengusap puncak kepalaku saat aku duduk dan menyandarkan punggung di punggung kursi panjang di teras belakang. Sudah ada Astro di sana, sedang melanjutkan membaca buku miliknya. Andai saja ada kursi lain, kurasa aku akan memilih kursi itu agar tak harus berbagi dengannya.
Sekejap mata, tanpa kusadari oma sudah meninggalkan kami. Namun ada opa yang sedang memberi makan ikan koi kesayangannya di kejauhan.
"Minum." ujarku dengan canggung. Entah kenapa rasanya tak sopan jika aku tak menawarinya minum lebih dulu.
Astro menatapku selama beberapa lama dan meneguk air teh hangat di gelas di hadapannya sebelum mengambil sebuah kue kering, "Makasih."
Aku memberinya senyum singkatku yang paling biasa. Namun entah kenapa rasanya aku ingin bertanya, "Kamu ga pulang?"
Astro baru saja menggigit kuenya saat pertanyaanku terlontar begitu saja. Dia menghentikan gigitannya dan menatapku seolah aku bukan manusia, "Kita baru sampai, tapi kamu udah nyuruh aku pulang?"
Aah sepertinya aku membuatnya salah paham.
Aku tak berniat mengusirnya. Aku hanya penasaran kenapa dia mengikutiku pulang ke rumah opa. Dia bisa pulang ke rumahnya sendiri, bukan?
Tatapan Astro terlihat seperti sedang mengintrogasiku. Tiba-tiba saja mengingatkanku pada bunda saat aku dan Fara membuat ulah namun tak ada yang bersedia mengaku.
"Oma bilang sebenernya kamu asik diajak temenan. Aku berusaha jadi temen kamu karena oma bilang kamu cuma main sendirian dan selalu ngurung diri di kamar."
Kurasa aku tahu apa maksudnya. Dulu aku memang terbiasa menjadi anak yang menyenangkan. Setidaknya bermain bersama bunda, Fara dan Danar setiap hari memang terasa menyenangkan. Senyum dan riuh tawaku bercampur suara mereka sepanjang hari di sela-sela proses belajar kami di rumah.
Aku dan kedua adikku memang mempelajari materi sekolah dengan sistem homeschooling, yang memungkinkan kami memiliki waktu bersama lebih banyak. Di berbagai kesempatan, kami juga sering mencari destinasi baru untuk kami kunjungi bersama ayah. Mungkin hal itu membuatku terlihat menyenangkan bagi orang lain, dulu.
Dalam banyak hal yang tak kupahami, kecelakaan yang terjadi lebih dari dua bulan lalu itu membuatku merasa asing dengan diriku sendiri. Semampu yang aku ingat, aku terbiasa tersenyum setiap pagi memanggil bunda. Bertanya pada bunda akan memasak apa hari itu dan apakah aku bisa membantu.
Aku mengingat saat aku dan kedua adikku membantu bunda menyiapkan semua peralatan kerajinannya, juga saat kami belajar beberapa cara membuat hiasan dengan bentuk yang lucu. Namun yang terbentuk justru benda aneh karena kami salah mengikuti instruksi. Kurasa hari-hari sedihku saat itu rasanya bisa kuhitung dengan jari.
Tiba-tiba kurasakan sesuatu menyengat di dadaku. Juga ada sesuatu yang hangat menyeruak dari ujung mata dan terasa panas. Aku tak bisa menahannya.
Aku mengusap air mataku dengan cepat. Sepertinya memang ada yang salah denganku dan rasanya memalukan terlihat menangis di depan anak laki-laki yang baru saja kukenal, tapi rasa maluku tak cukup kuat untuk aku bisa menjelaskan apapun.
"Maaf." kata-kata tercekat itu terlontar begitu saja dari bibirku. Sekarang aku justru merasa asing dengan apapun yang tubuhku lakukan tanpa bisa kukendalikan.
Astro meletakkan buku miliknya di meja lalu menaruh kue yang sudah tergigit di atasnya. Dia menaikkan kaki untuk bersila dan mengarahkan tubuhnya menghadap ke arahku, "Kamu bisa cerita kalau kamu mau."
Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Entah bagaimana, aku mengingat sensasi tekanan air saat tubuhku terdorong jatuh dari jembatan, menghempas sungai yang berarus sangat deras. Pandanganku terbatas karena keruhnya air di sungai itu, yang kuingat hanya bagaimana caraku mwncoba terus berenang untuk menggapai permukaan air dan mencari udara demi menyelamatkan diri.
Aku juga mengingat saat tubuhku terombang-ambing dengan kencang saat aku berusaha dengan susah payah untuk meraih sebongkah patahan kayu. Kurasa kapatan kayu itulah yang menyelamatkan nyawaku walau aku masih terbawa arus kencang.
Aku tak tahu kenapa keluargaku meininggalkanku lebih dulu. Padahal keluargaku adalah perenang yang baik, kecuali Danar yang masih sangat kecil.
Saat aku ditolong oleh beberapa orang, tubuhku sudah lemah karena terombang-ambing dalam waktu lama. Aku kedinginan dan juga menelan banyak air yang bercampur lumpur.
Aku ingat dengan jelas aku pingsan sesaat setelah diselamatkan. Aku baru tersadar dua hari kemudian di sebuah rumah sakit, dengan kepala yang terasa sangat sakit dan tubuh terasa tak sanggup kugerakkan.
Suster jaga menanyakan macam-macam pertanyaan setelah tubuhku cukup kuat. Namun saat aku bertanya tentang keberadaan ayah, bunda, Fara dan Danar, suster hanya menyuruhku beristirahat tanpa menjawab. Berjam-jam setelahnya, opa dan oma memasuki kamar rawatku. Mereka memelukku dan memeriksa tubuhku dengan tatapan panik.
Belakangan kuketahui, ayah dan Danar ditemukan di lokasi yang jauh dari jembatan sehari setelahnya. Sepertinya ayah berusaha melindungi Danar yang memang sedang dalam genggamannya saat jembatan itu jatuh. Fara ditemukan 50 meter dari tempatku diselamatkan, tapi dia tak bernyawa. Tubuh bunda hingga sekarang belum ditemukan, entah terbawa arus ke mana.
Ada beberapa orang yang juga terjatuh bersama kami dan terbawa arus saat itu. Mereka semua ditemukan meninggal. Satu orang ditemukan hanya beberapa meter dari tubuh Fara.
Entah sejak kapan keringat dingin mengaliri dahi dan punggungku. Saat aku menyadari sekelilingku, Astro sedang menyodorkan segelas air ke bibirku dan membantuku minum dengan perlahan karena tanganku bergetar.
"Mm ... makasih." ujarku dengan canggung.
"Kamu bisa ikut keluargaku ke Pantai Tirang pas aku libur. Aku anak tunggal jadi kalau ada kamu mungkin jadi lebih ramai. Kita bisa ajak opa sama oma juga kalau kamu mau."
Aku membutuhkan waktu beberapa lama untuk mencerna kalimatnya. Pantai Tirang adalah pilihanku saat ayah bertanya tentang destinasi kami selanjutnya, beberapa malam sebelum kecelakaan di jembatan itu terjadi.
Perjalanan ke pantai itu sekitar delapan jam dari rumah kami. Kami bahkan sudah merencanakan akan menginap di mana selama perjalanan kami nanti. Kami juga sudah menentukan lokasi edukasi dan rekreasi mana saja yang bisa kami datangi selama perjalanan kami menuju ke sana.
"Kamu takut air?"
Aku hanya menggeleng pelan. Kurasa aku lebih merasa takut dengan jembatan dan ketinggian sekarang.
"Nanti aku telpon, kamu mau ikut atau ga."
Aku mengangguk dan menatapnya dengan canggung. Entah apakah ini hanya perasaanku, tapi aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Setelah kecelakaan itu aku merasa aku selalu salah bersikap dalam situasi apapun.
Aku yang terbiasa tersenyum dan tertawa di segala kesempatan, bertanya macam-macam hal pada bunda, merencanakan banyak percobaan dengan Fara, juga sering kali menjahili Danar, sepertinya bukan aku yang sekarang yang lebih suka mengurung diri di kamar. Aku benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana.
Kurasa aku bisa memahami alasan kenapa oma meminta Astro menemaniku. Mungkin oma khawatir aku akan terus menjadi seperti ini, tapi aku sama sekali tak bisa melihat bagaimana aku akan bisa menjadi Faza yang biasanya. Tidak setelah orangtua dan adik-adikku pergi.
Astro menemaniku dalam diam selama beberapa lama sambil membaca buku miliknya. Dia beberapa kali memperlihatkan isi bukunya padaku yang ternyata adalah buku ensiklopedi alam semesta. Dia menjelaskan dengan singkat hal-hal yang menurutnya tak kuketahui. Cocok sekali dengan namanya, bukan? Astro.
Senja hampir tiba saat Astro meletakkan bukunya. Dia berjalan masuk ke arah dapur, lalu kembali tak lama kemudian.
"Mau ikut? Kita jalan kaki ke sawah." ujarnya sambil berjalan ke pagar kecil dan berhenti di sana.
Aku terdiam menatap Astro yang sedang menatapku di kejauhan. Sebetulnya kakiku terasa berat untuk berdiri, tapi segera terlupakan saat aku melihat oma.
"Oma ikut?" aku bertanya.
Oma mengangguk dan tersenyum, lalu menghampiri opa yang sedang menyiram tanaman beberapa meter dariku.
Aku memaksa tubuhku bangkit dan menghampiri Astro di dekat pagar, "Kamu ... sering ke sini?"
"Kadang-kadang aja kalau ikut ayah ketemu opa. Kalau aku bosen nunggu ayah diskusi sama opa, aku jalan-jalan di area sekitar sini. Aku pernah nemu rumah pohon di bukit sana. Lumayan jauh sih kalau jalan kaki."
Seingatku bunda pernah beberapa kali menyebut tentang sebuah rumah pohon, tapi entah kenapa kami tak pernah ke sana walau sudah tak terhitung berapa kali kami mengunjungi rumah ini. Mungkinkah rumah pohon yang dimaksud Astro adalah rumah pohon yang sama?
"Aku bisa ajak kamu ke rumah pohon itu kapan-kapan." ujar Astro sambil mengajakku berjalan keluar dari area rumah opa.
Aku mengangguk dan mulai mengikuti langkahnya yang terasa lambat untuk ukuran anak laki-laki. Entah apakah memang langkah kakinya selambat itu atau dia sedang berusaha menyamai irama langkah kakiku karena dia berpikir aku masih sakit.
Aku menoleh pada opa dan oma yang berjalan di belakang kami. Mereka berbicara dengan tatapan serius dan suara pelan yang hanya bisa didengar keduanya. Mungkin pembicaraan orang dewasa, aku tak ingin mengganggu.
Deretan pohon karet di sisi jalan setapak yang kami lewati mulai membuat bayang-bayang panjang ke arah timur. Aku bisa membayangkan deretan pohon itu akan terlihat menyeramkan saat malam tiba.
Aku bukan seorang penakut, karena ayah terbiasa membawa keluarga kami melalui perjalanan saat malam hari. Ayah mengajak kami naik ke gunung, menginap di sekitar hutan bakau, bahkan sekadar berkeliling naik sepeda melalui rute yang melewati bukit-bukit saat hari masih gelap.
Sekarang aku hanya mengikuti langkah kaki Astro dalam diam. Di pertengahan jalan setapak, kami berbelok menuju sawah.
Dari sini aku bisa menikmati langit senja. Aku sangat suka senja, begitu cantik, terlihat hangat. Saat langit belum gelap, masih ada semburat jingga berpadu biru tua dan abu-abu menggantung ujung di sana. Terasa seperti ada sesuatu yang hilang, kembali padaku.
Udara di sini juga menyenangkan sekali, sejuk berangin lembut. Andai saja hatiku tak terasa begini sedih, suasana ini akan menjadi salah satu senja yang akan kuingat dengan gembira.
Kami turun melewati beberapa undak sawah, melewati sungai kecil berair jernih untuk irigasi yang terasa sangat segar di kulit. Tak berapa lama, kami tiba di tepi jalan raya yang lengang. Kami berjalan di tepi jalan itu selama beberapa lama, hingga sampai di sebuah bangunan sederhana dengan atap ijuk dan dinding anyaman bambu.
Astro menghempaskan tubuhnya di salah satu gubuk kecil yang terlihat sengaja dibuat untuk pengunjung. Saat ini aku baru menyadari, tempat ini adalah salah satu tempat makan.
Aku melihat Astro mengeluarkan sebuah handphone dari saku celananya, lalu mengetik entah apa sebelum memasukkannya kembali. Aku mengingat percakapanku dengan bunda, yang tak mengijinkan aku memiliki benda itu. Bunda berkata aku tidak membutuhkannya.
Jika aku ingin memakai internet aku bisa memakai komputer atau laptop milik bunda. Lagi pula aku ingin berselancar di dunia maya dengan siapa? Teman yang kukenal bisa kukunjungi kapan pun aku menginginkannya karena mereka tetangga kami.
"Mau coba serabi kornet?" Astro bertanya padaku sambil menatap selembar kertas bertuliskan menu.
Aku mendekatkan tubuhku ke sisinya dan membaca deretan daftar menu. Ada aneka roti bakar, serabi, jagung bakar, ada mie goreng, kwetiau, nasi goreng, dan berbagai minuman tertera di sana.
Kurasa aku menginginkan roti bakar selai kacang coklat dan susu hangat. Aku menunjuk menu yang kuinginkan pada Astro. Dia memberi ceklis di kolom yang kutunjuk dan menyerahkan kertas itu pada opa. Opa memberi ceklis di beberapa bagian lalu memanggil seseorang yang membawa kertas menu itu pergi.
"Mafaza." terdengar suara opa memanggil.
Dalam banyak kesempatan aku dan opa jarang sekali bicara, terlebih setelah kecelakaan jembatan itu terjadi. Aku semakin merasa canggung berbicara dengan opa saat melihat sorot matanya yang kutafsirkan sebagai rasa sesal terhadapku. Entah kenapa aku merasa opa merasa terbebani dengan keberadaanku.
"Ya?" tiba-tiba saja kata itu terlontar dengan sendirinya. Ada rasa canggung yang menghampiri dan membuatku menyesal hanya menjawab sesingkat itu.
"Mau belajar di sekolah sama Astro?"
Pertanyaan yang kukhawatirkan akhirnya datang. Aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku masih tak ingin bertemu orang baru yang lainnya.
Hening cukup lama di antara kami. Tatapanku berpindah dari opa, ke oma, ke Astro, lalu berhenti di kedua tanganku yang terasa seperti melebur dengan meja.
"Kalau Faza masih mau homeschooling ga pa-pa kok. Nanti ada guru yang dateng bantu Faza belajar. Soalnya Oma ga ngerti ngajarin homeschooling kayak bunda gitu." ujar Oma dengan senyum tipis yang sangat bermakna.
"Mm ... kalau boleh, Faza mau homeschooling aja."
"Mafaza tahu? Mafaza harus belajar membaur bersama teman-teman baru." opa menimpali. Aku tahu ada ketidaksukaan yang jelas dari kalimatnya.
Aku mengangguk walau di dalam hatiku aku selalu merasa memiliki teman yang cukup banyak. Namun kurasa, mungkin sekarang tidak lagi. Karena aku sudah meninggalkan mereka dan pindah ke sini.
"Astro temen baru Faza kan, Opa?" ujar Astro dalam keheningan yang membuat dadaku terasa berat bernapas. "Astro bisa main ke rumah Opa kalau libur."
Sepertinya aku baru menyadarinya sekarang. Di antara Astro, opa dan oma tak ada kecanggungan seperti orang yang tak memiliki hubungan keluarga. Interaksi mereka terasa sangat dekat. Bahkan Astro bisa lebih dekat dengan opa dibandingkan suasana canggung yang selalu ada saat aku berbincang dengan opa.
Siapa anak laki-laki ini sebenarnya?
"Betul, tapi Mafaza tetap butuh teman lain. Teman perempuan." ujar opa dengan tatapan tajam yang terpaku padaku.
Aku masih bingung bagaimana aku harus menjelaskan bahwa aku sangat tidak ingin bertemu orang baru. Tak bisakah aku memilih?
"Pelan-pelan aja. Nanti Faza pasti punya banyak temen. Kalau Faza ikut Oma besok pagi, Oma bisa kenalin Faza ke Denada, ada Mayang juga. Nanti kalian bisa main bareng kalau mereka pulang sekolah atau mereka libur." ujar oma.
Aku mengangguk ke arah oma karena tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Bertemu dua orang baru jauh lebih baik dari pada harus menghadapi satu kelas penuh orang yang ingin tahu, bukan?
Di saat yang sama, makanan kami tertata di meja. Kurasa percakapan tentang sekolah telah berakhir di sana. Walau aku merasa ada tatapan tak puas di mata opa, tapi opa tak mengatakan apapun lagi.
Opa dan oma menghabiskan makanan sambil berbincang tentang ketersediaan kain di toko, yang jelas tak kupahami. Aku menghabiskan makananku dalam diam, tapi aku tahu Astro beberapa kali menoleh ke arahku. Mungkin dia ingin mengajakku bicara, tapi ragu.
Saat kami selesai dengan makanan kami, oma menghampiri meja kasir. Tepat saat itu ada sebuah mobil berhenti di sisi jalan. Kelihatannya tak ada cukup ruang di tempat makan ini untuk memarkir sebuah mobil.
Sesaat kemudian, seorang pria keluar bersama dengan seorang wanita. Aku mengenali pria itu, pria yang beberapa jam lalu kulihat di toko kain. Astro melambaikan tangan ke arah keduanya, dia memanggilnya ayah dan ibu.
"Opa Dewanto, maaf Astro ngerepotin, ya?" ujar ibu Astro sambil menjabat tangan opa. Suaranya terdengar lembut walau tegas, walau ada nada khawatir di sana.
"Astro ga merepotkan. Baik sekali mau jadi teman Mafaza." opa menjawab sambil menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti.
Demi sopan santun aku mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Ada senyum lembut di wajah keduanya. Ibu Astro bahkan sempt mengelus puncak kepalaku selama beberapa lama.
"Mau makan dulu?" opa bertanya.
"Ga perlu, Opa." ayah Astro menjawab.
Saat itu aku baru menyadari matahari telah menghilang. Cahaya di sekitarku datang dari beberapa lampu yang terpasang di setiap gubuk.
"Jaya anter pulang sekalian ya. Bahaya kalau pulang lewat sawah, udah gelap." ujar ayah Astro sambil mengajak kami berjalan menuju mobil.
Opa mengangguk dan kami semua memasuki mobil. Opa menemani ayah Astro duduk di depan dan berbincang tentang sesuatu yang tak kumengerti. Di tengah ada ibu Astro dan oma, sedang membahas tren kain yang akan datang. Sedangkan aku dan Astro duduk di belakang.
"Minggu depan aku ke rumah." ujar Astro tiba-tiba.
Aku tak tahu apa rencananya, tapi aku mengangguk. Aku tak berniat membahas apapun dengannya saat ini. Isi kepalaku sedang penuh dengan bagaimana aku akan berkenalan dengan orang baru. Lagi.
=======
NOVEL INI EKSKLUSIF DAN HANYA TAMAT DI APLIKASI WEBNOVEL. BANTU NOU LAPORKAN APLIKASI PEMBAJAK NOVEL : IREADING